Menurutsaya.com ~ MESTINYA MENTERI-MENTERI Kabinet Jokowi-JK ini jangan terlalu arogan – apalagi mentang-mentang berkuasa. Karena, jika hal itu dilakukan, dampaknya jelas akan kurang baik buat citra kementrian yang dipimpinnya.

Bahkan gaya menteri yang seperti itu berpotensi membuat kegaduhan yang kontra produktif, dan berkontribusi besar dalam memperburuk citra pemerintahan Jokowi-JK. Pasti, rakyat kecil yang periuk nasinya terancam hilang, dengan caranya sendiri akan berteriak sampai mati. Anak-anak digital yang sangat inovatif pun tidak akan tinggal diam, bergerilya untuk tetap survive, tentu dengan perlawanan.

Itulah sebabnya, mengapa saya merasa perlu untuk mengapresiasi atas reaksi cepat Presiden Joko Widodo yang meminta Menteri Perhubungan, Ignatius Jonan, agar tidak melarang aplikasi ojek seperti Gojek, GrabBike maupun yang lainnya. “Ojek itu hadir karena kebutuhan di masyarakat. Gojek itu hadir juga karena kebutuhan masyarakat,” kata Jokowi, di Istana Bogor, Jumat, (18/12).

Jangan karena adanya aturan, lanjut Jokowi, lalu melarang model aplikasi ojek seperti ini. Aturan dibuat oleh manusia. Sepanjang itu dibutuhkan masyarakat, harusnya tidak ada masalah.

Jauh sebelum peristiwa ini, Jokowi pernah menyatakan dukungannya terhadap industri digital. Khususnya, dukungan pada yang menyokong pertumbuhan industri kecil, seperti Go-Jek.

“Ya memang, ekonomi tradisional kita perlu sentuhan aplikasi yang memudahkan mereka,” ujar Jokowi dalam Dialog Komunitas Kreatif dengan Presiden di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai, Selasa (4/8/2015) lalu.

Usaha rintisan lokal yang menghubungkan para tukang ojek dengan dunia digital sehingga bisa mendapatkan penumpang dengan lebih mudah, seperti Gojek mestinya bisa dikembangkan kepada pelaku ekonomi kecil lainnya, seperti petani dan nelayan.

Lebih dari itu, Presiden Jokowi bahkan sempat mengajak pendiri GoJek, Nadiem Makarim dan pelaku industri kreatif Indonesia dalam rombongan kerjanya ke pusat industri digital dunia, Silicon Valley, California, AS pada 25 – 29 Oktober 2015 lalu, walau pada akhirnya Jokowi batal berkunjung dan diwakilkan oleh Menkominfo, Rudiantara.

Memang, dari sisi kreatifitas, Gojek adalah aplikasi anak-anak muda yang ingin memperbaharui, inovasi dari sebuah ide, jadi jangan sampai juga mengekang inovasi. Gawat juga, jika pemerintah mengekang sebuah inovasi seperti ojek online ini? Coba, apa jadinya, jika Jokowi tidak tanggap dalam persoalan ini.

Bisa jadi, gara-gara Menteri Jonan, Indonesia akan merayakan pergantian tahun 2015 ke 2016, dengan kegaduhan komunitas gojek dan ojekers. Karena begitu gojek dilarang tentu saja ojek-ojek lainnya baik yang berbasis digital maupun tidak juga harus diperlakukan sama.

Seperti yang heboh diberitakan media, sejak pagi hingga saat tulisan ini dibuat kecaman di media sosial dan media komersial gaduh dengan berita ini, termasuk dukungan Presiden untuk Gojek. Akibatnya, tidak sampai hitungan hari, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kembali mengizinkan layanan ojek online ataupun layanan kendaraan online sejenis lainnya beroperasi kembali.

Padahal, pagi harinya, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) mengumumkan larangan pengoperasian ojek online atau layanan kendaraan online sejenis lainnya, sesuai dengan Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 yang ditandatangani oleh Menhub Ignasius Jonan, tertanggal 9 November 2015.

Entah apa yang ada dipikiran Menhub dan para pejabat ketika mengambil keputusan besar itu. Mestinya mereka tidak perlu dipermalukan publik, jika mengikuti alur berpikir Jokowi – seperti yang ditulisnya via twitter, sesaat setelah mendengar kontroversi Menteri Jonan, yang sebagian isinya adalah demikian, “Ojek dibutuhkan rakyat. Jangan karena aturan rakyat jadi susah. Harusnya ditata -Jkw,”.

Saya sangat setuju dengan cuitan Jokowi di atas itu. Sudahlah, pak Menteri Jonan, dan menteri-menteri lainnya, jangan bikin aturan yang membuat rakyat tambah susah lagi deh. Kalau mau bikin aturan yang kontroversi, ya tanya pak Jokowi dulu saja.

Itu menurut saya, Bagaimana menurut Anda ? ~ @yBudiPurnomo